Beberapa hari terakhir seorang etnomusikolog Endo Suanda menjadi ‘anak kos’ di pondokan saya di tepi sungai di sudut kota Denpasar. Pak Endo – demikian saya memanggil beliau – berasal dari sebuah kampung di Jawa Barat, pelaku seni-budaya tradisional Sunda, yang mengenyam pendidikan seni di jenjang S2 dan S3 di Amerika, yang sangat rapi mengarsip dan mendokumenterkan berbagai ragam kesenian daerah dan peralatan music serta berbagai ‘geliat kesenian’ tanah air.
Endo Suanda
________________________________________
Endo Suanda mempraktikkan cara membuat badan gitar dari kayu lapis kepada para peserta Pelatihan PSN di Tasikmalaya, Jawa
________________________________________
Endo Suanda mempraktikkan cara membuat badan gitar dari kayu lapis kepada para peserta Pelatihan PSN di Tasikmalaya, Jawa
________________________________________
Endo Suanda (ketiga dari kanan) menyalami para tamu undangan yang menghadiri Pembukaan Pelatihan PSN topik "Alat Musik Daw
Endo Suanda (Direktur LPSN) memberikan sambutan pada Pembukaan Pelatihan PSN topik "Alat Musik Dawai" dan "Tekstil" pada 4
________________________________________
Endo Suanda (tengah) dan Toto Amsar (kanan) sesaat menjelang pembukaan Pelatihan PSN topik "Alat Musik Dawai" dan "Tekstil
________________________________________
Para pembicara diskusi umum dalam Pelatihan Guru PSN pada 7 Agustus 2005 di Bandung, Jawa Barat.
________________________________________
Endo Suanda dan Waridi mengamati kecapi bambukarya peserta dalam Pelatihan PSN topik "Alat Musik Dawai" pada Agustus 2005
________________________________________
Endo Suanda menerangkan konsep sumber bunyi dengan media seutas kawat kopling bekas dalam Pelatihan PSN topik "Alat Musik